BAHAYA PLASTIK
DAN CARA MENANGGULANGINYA
Oleh : Atharic Alfadh (@T26-Atharic)
ABSTRAK
Seperti yang kita ketahui pada zaman
sekarang ini kehidupan manusia tidak dapat lepas dari penggunaan
plastik. Plastik selalu di ikutsertakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya
untuk tempat makanan, minuman, peralatan rumah tangga dan masih
banyak lagi. Plastik sering digunakan karena bahannya besifat
ringan, tidak mudah pecah, murah dan sangat mudah
didapatkan. Tetapi tahukah anda bila ada jenis-jenis plastik yang
memberikan dampak negatif bagi kehidupan kita ?. Sampai sekarang masih
banyak orang yang tidak menyadari bahaya yang akan di timbulkan akibat
penggunaan plastik bagi mereka sendiri dan terhadap lingkungan sekitar.
Kata kunci : penemu plastik, dampak, penanggulangannya
Plastic is one of the materials that we can meet
every day. In general, plastics are composed of polymers, namely long chains
and smaller units called monomers. This polymer can enter the human body
because it is insoluble so that if there is accumulation in the body it will
cause cancer. When food is wrapped in plastic, these monomers can move into the
food and then move to the body of the person who consumes it. These chemicals
that have entered the body are not soluble in water so they cannot be expelled
out, either through urine or feces.
Keywords: plastic inventor, impact, overcoming it
PENDAHULUAN
Seperti yang kita ketahui pada zaman sekarang ini kehidupan manusia tidak dapat lepas dari penggunaan plastik. Plastik selalu di ikutsertakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk tempat makanan, minuman, peralatan rumah tangga dan masih banyak lagi. Plastik sering digunakan karena bahannya besifat ringan, tidak mudah pecah, murah dan sangat mudah didapatkan. Tetapi tahukah anda bila ada jenis-jenis plastik yang memberikan dampak negatif bagi kehidupan kita ?. Sampai sekarang masih banyak orang yang tidak menyadari bahaya yang akan di timbulkan akibat penggunaan plastik bagi mereka sendiri dan terhadap lingkungan sekitar. Secara umum plastik tersusun dari polimer, yaitu semacam rantai panjang dan satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. Polimer ini dapat masuk kedalam tubuh manusia dan bersifat tidak larut, sehingga bila terjadi akumulasi dalam tubuh akan menyebabkan kanker. Bila makanan dibungkus dengan plastik, monomer-monomer ini dapat berpindah kedalam makanan dan selanjutnya berpindah ke tubuh orang yang menkonsumsinya. Bahan-bahan kimia yang telah masuk ke dalam tubuh ini tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar baik melalui urin maupun feses (kotoran). Berdasarkan hal diatas, maka penulis akan mengulas mengenai “Bahaya Plastik Bagi Kehiduapan”.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah penemuan plastik ?
2. Bagaimana dampak plastik bagi kesehatan dan lingkungan ?
3. Bagaimana upaya pencegahanya ?
Tujuan Peneliatian
1. Mengetahui sejarah tentang plastik
2. Mengetahui dampak plastik bagi kesehatan dan lingkungan
3. Mengetahui upaya penanggulangannya.
PEMBAHASAN
Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah
plastik adalah Alexander Parkes. Parkes menamai temuannya itu dengan nama
« Parkesin » yakni sebuah material organik yang berasal dari serat yang dapat
dibentuk bila dipanaskan dan dapat mengeras ketika suhunya turun atau dapat
disebut selulosa. Dulu pada saat banyak bola biliar yang terbuat dari
semen digantikan oleh temuannya tersebut. Pada waktu itu ketika selulosa
dijadikan bahan pembuat film yang kemudian banyak disebut seluloid pada awal
1900.
Hampir dalam waktu bersamaan saat selulosa
dijadikan bahan pembuat film, tepatnya tahun 1897, muncul jenis
plastik lain yang disebut formaldehyde resins atau bakelit. Bakelit
mempunyai sifat yang lebih lunak dan mirip serbuk. Salah satu produk yang
populer pada waktu itu adalah ketika jenis ini digunakan sebagai campuran untuk
membuat kapur tulis.
Dalam studi yang dilakukan oleh UN Environment
Programme berjudul «Single-Use Plastics: A Roadmap for Sustainabil-ity» pada
tahun 2018 mengungkapkan, bahwa sampah plastik berupa kantong dan styrofoam
memerlukan ribuan tahun untuk bisa terurai.
Sedangkan penelitian Jenna R. Jambeck dari
Georgia University pada 2010 menyebutkan, ada sekitar 275 juta ton sampah
plastik yang tersebar di seluruh dunia, dengan sekitar 4,7 hingga 12,7
juta ton sampah berada di lautan. Dari total permintaan plastik
kemasan, sekitar 60 persen diserap oleh industri makanan dan minuman.
Industri minuman, misalnya, menjadi
salah satu sektor yang pertumbuhannya paling cepat di Indonesia. Industri
minuman di Indonesia tumbuh 22,74 persen pada semester satu 2019.
Ketika industri terus bertumbuh, maka
volume sampah plastik pun akan meningkat. Dipaparkan oleh
Greenpeace, pada dasarnya sampah plastik ini berpotensi terbelah menjadi
partikel-partikel kecil, yang disebut sebagai mikroplastik dengan ukuran
sebesar 0,3 hingga 5 milimeter.
Partikel kecil inilah yang justru
berbahaya, karena berpeluang masuk ke dalam tubuh makhluk
hidup, termasuk manusia. Adapun dampak yang bisa ditimbulkan pada
manusia antara lain kanker, stroke, serta penyakit pernapasan.
Salah satu contohnya adalah pencampuran bahan
daur ulang plastik ke dalam aspal untuk membangun jalan, yang telah
diterapkan di Indonesia untuk memperbaiki jalan umum. Yang paling
penting, model ini akan menghitung investasi yang dibutuhkan, batasan
waktu, jejak lingkungan dan emisi gas rumah kaca serta dampaknya terhadap
kehidupan masyarakat. Terakhir, Indonesia juga perlu menerapkan
pengelolaan sampah plastik yang tepat di daratan, terutama yang dihasilkan
oleh rumah-rumah dan kawasan industri. Salah satu upaya yang dapat
diterapkan adalah penerapan target nol limbah, yang berarti 90 persen
limbah digunakan untuk daur ulang atau pengomposan sedangkan 10 persen sisanya
dibuang ke TPA atau dibakar.
KESIMPULAN
Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah
plastik adalah Alexander Parkes. Parkes menamai temuannya itu dengan nama
« Parkesin » yakni sebuah material organik yang berasal dari serat yang dapat
dibentuk bila dipanaskan dan dapat mengeras ketika suhunya turun atau dapat
disebut selulosa. Dulu pada saat banyak bola biliar yang terbuat dari
semen digantikan oleh temuannya tersebut. Dalam studi yang dilakukan oleh
UN Environment Programme berjudul «Single-Use Plastics: A Roadmap for
Sustainabil-ity» pada tahun 2018 mengungkapkan, bahwa sampah plastik
berupa kantong dan styrofoam memerlukan ribuan tahun untuk bisa terurai.
Sedangkan penelitian Jenna R. Jambeck dari
Georgia University pada 2010 menyebutkan, ada sekitar 275 juta ton sampah
plastik yang tersebar di seluruh dunia, dengan sekitar 4,7 hingga 12,7
juta ton sampah berada di lautan. Partikel kecil inilah yang justru
berbahaya, karena berpeluang masuk ke dalam tubuh makhluk
hidup, termasuk manusia. Adapun dampak yang bisa ditimbulkan pada
manusia antara lain kanker, stroke, serta penyakit pernapasan.
Salah satu contohnya adalah pencampuran bahan
daur ulang plastik ke dalam aspal untuk membangun jalan, yang telah
diterapkan di Indonesia untuk memperbaiki jalan umum.
DAFTAR PUSTAKA
Setyojati, Randhat. 2019. Sejarah
Plastik : Proses Penemuan Plastik https://mesinpencacahplastik.id/sejarah-plastik/ (Diunduh 5 September 2021)
https://kumparan.com/kumparansains/begini-dampak-sampah-plastik-bagi-lingkungan-dan-kesehatan-manusia-1sExfNL4Tky/3 (Diunduh 5 September 2021)
Supam, Arif, Barakalla Robyn dan Sakinah
Ummu Haniy. 2019. Cara untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. https://wri-indonesia.org/id/blog/3-cara-untuk-mengurangi-sampah-plastik-di-indonesia (Diunduh 5 September 2021)

Comments
Post a Comment